Minggu, 10 Maret 2013

Sejarah Dayak

Sejarah Dayak



oleh Nugrasius
Dipublikasikan Kaltimpost Januari 2008

            Dayak, etnis terbesar dan tersebar di seluruh penjuru bumi Kalimantan, telah membangun peradabannya sekitar 2000 SM. Studi sejarah dan antropologi mengungkapkan titik awal etnis dayak bermula dari migrasi masyarakat Proto Melayu dari daerah Cina Selatan, Yunan.
Migrasi terus berlanjut sehingga membentuk etnis dayak yang memiliki keragaman dan heterogenitas dalam corak, pola hidup bahkan bahasa. Dayak Kenyah, Punan, Maanyan misalnya membangun komunitasnya di pedalaman dengan berkebun berladang. Ada pula Dayak Iban yang dikenal sebagai pelaut ulung yang hidup di pesisir Barat Kalimantan.
Dalam perkembangannya, Dayak membangun sistem kepercayaannya dan ketuhanannya, sesuatu yang lumrah dimiliki setiap komunitas masyarakat. Di Kalimantan Tengah dan Selatan, Dayak Maanyan membangun kerajaan Nansarunai yang bercorak Hindu. Kerajaan ini yang mengalami kejatuhan pada abad ke-13 setelah diserang Majapahit (Fridolin Ukur, 1971). Sebagian dayak masuk ke pedalaman, sebagian bertahan dan berasimilasi dengan Jawa. Islam mulai masuk di Kalimantan, bersamaan dengan terbentuknya kerajaan baru di daerah selatan Kalimantan, yaitu Kerajaan Negara Daha (berpusat di Marabahan) dan Negara Dipa (berpusat di Amuntai).
Pada daerah selatan pesisir Kalimantan Islam mulai berkembang di tengah kultur Hindu. Dayak yang menjadi muslim disebut bahakey. Dituturkan tentang tokoh bernama Labai Lamiah seorang Dayak Maanyan pertama yang menjadi muallaf dan mubaligh. Ia berdakwah di wilayah Nagara yang masyarakatnya pada waktu itu adalah campuran antara suku Dayak Maanyan dan mantan prajurit Majapahit yang masih memeluk agama Hindu Syiwa. Labai Lamiah berhasil mengislamkan orang-orang Maanyan yang ada di Banua Lawas atau sekarang disebut Pasar Arba, tidak jauh dari Kalua. Akibatnya, Balai Adat orang Maanyan di tempat itu berubah fungsi menjadi Masjid (Marko Mahin, 2003).
Ketika terjadi perpecahan internal pada kerajaan Negara Dipa, Pangeran Samudra, seorang dayak Maanyan meminta bantuan Demak untuk berkuasa di daerah Selatan Kalimantan. Raja Demak mensyaratkan keislaman Pangeran Samudra, sehingga mengganti namanya menjadi Suriansyah dan kemudian membangun Kerajaan Banjar pada tahu 1526, sehingga dimulailah etnis Banjar. Kerajaan Banjar sempat menghegemoni sosial politik di Kalimantan sehingga bahasa Banjar menjadi familiar di Kaltim dan Kalteng.
Etnis Kutai, dikenal sebagai kerajaan hindu tertua di nusantara dengan adanya bukti prasarti Yupa pada abad ke-4 Masehi yang saat itu diperintah oleh Raja Mulawarman. Kutai, Dayak dan Banjar memiliki beberapa kesamaan fisik, corak hidup dan bahasa. Kutai juga mengalami Islamisasi setelah kedatangan muballigh dari Sumatra yang mengajak Raja Kutai untuk memeluk Islam pada abad ke-17. Sehingga seluruh rakyatnya pun masuk Islam. Beberapa sejarawan memperkirakan Kutai juga berasal dengan etnis yang sama dengan dayak.
Pada abad ke-16, Portugis dan Spanyol datang ke nusantara untuk mencari sumber daya alam, disebabkan jatuhnya Bizantium oleh Turki yang praktis mengganggu jalur perekonomian Eropa dengan Asia. Barat (Eropa) mencari langsung sumber kekayaan ke negeri Timur dengan menjajah dan mencuri kekayaan di seluruh penjuru negeri. Kedatangan Barat pada gelombang berikutnya ke nusantara diikuti oleh misionaris untuk menyebarkan agama Kristen.
Kristen masuk di Kalimantan melalui daerah utara dan barat. Penjajah, ilmuwan sekaligus misionaris memasuki pedalaman Kalimantan untuk memetakan kekayaan alam dan mengenalkan agama Kristen. Maka dimulailah pembentukan komunitas-komunitas dayak Kristen pada jalur-jalur yang dilaluinya sampai ke daerah timur Kalimantan.
Kristen diterima oleh masyarakat pedalaman yang saat itu masih memiliki keyakinan animisme dan dinamisme. Dikenal pula Kaharingan yang mirip dengan Hindu dan masih banyak dipegang oleh Dayak daerah Kalteng. Kristen kemudian menjadi simbol dan identitas bagi sebagian etnis dayak pada daerah Kalbar, Kalteng dan Kaltim. Di Kaltim sendiri, dayak Kristen terkonsentrasi di daerah Kutai Barat dan Malinau. Di Kabupaten Berau terdapat kampung dayak bernama Tumbit Dayak yang beragama Kristen dan Tumbit Melayu yang beragama Islam, kampung ini hanya bersebelahan di Kecamatan Kelai.
                Beragamanya corak, model bahasa dan keyakinan hidup yang dimiliki etnis dayak, tidak memungkinkannya untuk diidentikkan untuk satu kepercayaan/agama tertentu. Tidak seperti Bugis yang kental dengan Islamnya dan Toraja yang sudah identik dengan Kristen. Dayak telah memiliki berbagai macam wajah kultur dan keyakinan. Maka sebuah kekeliruan jika ada seorang dayak ataupun non-dayak yang memvonis dayak adalah Kristen.
                Kompleksitas variasi etnis dayak tidak lantas merupakan sebuah weakness (kelemahan). Kesamaan harapan, kesadaran nasib dan kondisi yang termarginalisasi dalam kancah sosial politik dapat menjadi sebuah kekuatan pemersatu dan soliditas etnis dayak dalam berkontribusi bagi pembangunan bangsa dan Negara Indonesia tercinta.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar