Kamis, 26 Maret 2015

Akik-akik Cabe Rawit


Akik-akik Cabe Rawit
dipublikasikan Kaltimpost 27 Maret 2015
Musim semi batu akik sepertinya masih belum mencapai klimaksnya. Temuan baru, pasar baru, 'beharat' yang baru masih menunjukkan trend yang meningkat. Pembukaan sentra akik di Segiri dan di mall-mall semakin meramaikan bursa akik batu mulia atau gemstone.
Tampaknya warga umum lebih ahli berinteraksi mendeskripsi batu mulia daripada sarjana-sarjana geologi. Kebetulan Universitas Mulawarman telah membuka jurusan Teknik Geologi S1 angkatan pertama dimana kemarin saya sempat mengisi kuliah tamu untuk mahasiswa geologi maupun pertambangan secara informal. Selayaknya akademisi Pertambangan/Geologi Unmul berpartisipasi dalam memberikan guide atau penjelasan kepada masyarakat tentang segala tetek bengek batu mulia misalnya workshop, seminar atau sejenisnya. Sehingga musim batu mulia menjadi edukasi tersendiri bagi masyarakat Kaltim dalam mengenal batuan alam ataupun dalam aspek bisnisnya.
Batu mulia atau kita patenkan saja dalam bahasa yang lebih memasyarakat, batu akik, pada dasarnya merupakan mineral yang terbentuk melalui proses alam selama jutaan tahun. Sebagaimana kita ketahui ada 3 jenis batuan alam yakni batuan beku, batuan sedimen dan batuan metamorf. Masing-masing jenis akik berasal dari 3 jenis batuan tersebut dengan ciri tersendiri. Batuan beku terbentuk melalui proses magma yang keluar ke permukaan bumi, kemudian membeku bersamaan dengan turunnya suhu magma tersebut. Dari suhu ribuan derajat turun hingga nol puluhan derajat pada setiap fase penurunan suhu terbentuk mineral khas tersendiri. Dari suhu tinggi terbentuk mineral olivin, piroksin hingga kuarsa di suhu medium terdiri dari susunan unsur kimia berbeda. Intan atau diamond yang dikenal sebagai batu mulia terkenal berharga tinggi di Eropa terbentuk di suhu tinggi dengan tingkat kekerasan tertinggi. Mineral akik lain contohnya Tourmaline atau Topas dan sejenisnya. Di Kalimantan, batuan beku kebanyakan di hulu-hulu atau pedalaman Kalimantan. Granit yang dijadikan sebagai tegel/porselin salah satu produk batuan beku. Ada juga yang kreatif menjadikan granit sebagai akik. Bukan main.
Batuan sedimen terbentuk berasal dari batuan beku yang mengalami pelapukan selama jutaan tahun, jatuh tertransportasi ke bawah hingga terendapkan atau tersedimentasi selama jutaan tahun hingga menjadi keras dan jadilah ia berlapis-lapis. Sebagaimana kita lihat di Sungai Mahakam misalnya sedimentasi yang berlangsung terus-menerus selama jutaan tahun ke depan, endapan lumpur yang lembek saat ini, nantinya akan menjadi keras. Sedimentasi dari pepohonan yang terendam dan tersedimentasikan kemudian getahnya menutupi benda tertentu nantinya menjadi fosil atau batu fosil, jadilah akik fosil dengan berbagai motif, contohnya akik Bulu Monyet di Berau yang terkenal. Beberapa akik lainnya berasal dari sedimentasi koral atau terumbu karang, jadilah akik motif koral atau 'kelabang' misalnya. Ada-ada saja.
Adapun batuan metamorf atau batuan ubahan terbentuk dari batuan beku atau sedimen yang mengalami perubahan karena pengaruh suhu atau tekanan akibat proses magmatik (magma keluar) dan tektonik (pergeseran lempeng bumi). Batuan metamorf juga banyak dijadikan tegel/porselin yang biasanya berwarna kemerahan. Nah, akik Red Borneo termasuk dalam jenis batuan ubahan atau metamorf ini.
Batu ruby dengan kesan kemilau pantulan bintangnya berasal dari batuan beku. Biasa kenal dengan ruby star atau american star. Awas imitasinya banyak ditemukan, yang polos bening tanpa serat namun memantulkan bintang umumnya imitasi. Merah delima atau mirip-mirip merah siam sedikit sulit dibedakan secara kasat mata karena penamaan masyarakat sedikit berbeda pada 2 jenis batu ini. Perlu kehati-hatian dalam memilih, salah-salah dapat imitasi. Akik atau gemstone sejenis safir, ametis, calcedon, kecubung, opal/kalimaya terbentuk melalui proses kimia pada boulder atau bongkahan batuan beku yang mengalami pelapukan terendam air jutaan tahun. Misalanya kita temukan bongkahan batuan di sungai kemudian kita pecahkan lalu di dalamnya tampak mineral atau akik yang transparan atau tembus saat diberi cahaya ('disenter jar'). Makin unik, orisinal, dengan warna menarik, semakin bernilai harganya. Makin dimasak makin turun harganya.
Kita dapat mengidentifikasi secara makroskopis atau visual mata terhadap mineral / akik tertentu yang mudah dikenal, namun terhadap gemstone lainnya terkadang perlu identifikasi mikroskopis atau laboratorium gemologi melalui mikroskop khusus contoh membedakan topas dan safir yang memiliki kemiripan perlu keahlian khusus. Bagaimana membedakan akik asli atau imitasi juga ngeri-ngeri sedap, bayar mahal jutaan rupiah ternyata palsu/imitasi, disitu anda pasti merasa sedih.
Secara fisik sebagian akik mudah dibedakan contoh kalimaya asli menunjukkan kesan warna warni tak beraturan seperti pemandangan indah galaksi di luar angkasa, sementara kalimaya / opal palsu persis hologram, penyebaran warna terpola dan agak seragam, untuk opal terang mudah dikenali yang imitasi tapi opal gelap atau kalimaya kopi perlu kejelian untuk membedakan. Cara lainnya seperti disampaikan di medsos, dengan menggunakan akik untuk menggeser layar touchscreen di smartphone, apabila tergeser maka ia diyakini asli apabila tidak, diperkirakan palsu. Namun hal tersebut belum diteliti secara ilmiah mungkin karena perbedaan susunan kimia antara mineral asli dan mineral kaca. Saya lebih memilih akik bercorak atau berserat daripada akik polos bening karena khawatir imitasi. Peran pencahaya (senter) dan lup bisa membantu untuk merecek kasat mata. Untuk lebih memudahkan membedakan asli atau pulsa dengan menggogling kata kunci akik asli palsu nantinya akan terbiasa melihat yang mana asli dan tidaknya.
Aspek menarik lainnya pada akik adalah adanya rumus pencocokan zodiak dengan jenis batu mulia tertentu. Entah dapat wangsit darimana belum ditemukan penjelasan ilmiah dari rumus yang diterbitkan nenek moyang di zaman batu itu. Barangkali ada reaksi-reaksi tertentu dari kandungan mineral yang tersusun dengan rumus kimia berbeda dengan genetik manusia yang lahir dengan posisi bulan matahari berbeda (zodiak) dimana gravitasi cairan dalam bayi berbeda setiap bulannya, menghasilkan produk genetik manusia sedikit berbeda. Perlu penelitian ilmiah mendalam. Yang jelas, apa yang menarik dan klik dengan hati dan dompet anda, silahkan langsung dipilih dan dipikat dengan emban tintanium mengkilap rasa laki. Mumpung akik Nabi Sulaiman belum ditemukan bangsa Yahudi Israel, kesempatan meharatkan akik Sulaiman masih ada. Selamat berakik ria dan jangan lupa sedekahkan sisa angsulan bisnis akik.



Selasa, 17 Maret 2015

Kacang Goreng Rasa Akik

Kacang Goreng Rasa Akik
Dipublikasikan kaltimpost 17 maret hal.2
Ketika 5 tahun saya membeli kalimaya banten di mall lembuswana, trading batu akik masih sunyi. Ketika 2 tahun lalu saya borong lagi blue safir di pasar pagi, masih sepi perbincangan soal batu mulia. Hari ini di pasar pagi Samarinda saya lihat gemstone atau bahasa rakyatnya batu akik, sudah terlihat seperti dagang kacang goreng, terhampar kayak kerikil.
Empat bulan lalu masih hangat dan belum terlalu ramai soal akik, saya sempat koleksi kecubung pangkalan bun (ngaran batu akiknya jar haji banjar), lumur borneo (lawannya lumut aceh), ruby merah delima dan red safir. Harganya masih bersahabat, tapi gara-gara musim batu akik menanjak, harga mulai berkompetisi, nego wan haji mulai alot. Disitu kadang saya merasa sedih.
Bukan lagi nyaman banar tapi mahal bujur.
Fenomena batu akik atau bahasa ilmiahnya Gemstone, batu mulia sebenarnya sudah berkembang ribuan tahun lalu dimana raja-raja, bangsawan terbiasa menyematkan batu mulia menawan pada mahkota mereka. Batu dari Kalimantan Selatan sudah dikenal di zaman Sriwijaya, diperkirakan saat itu di wilayah Kalsel masih berdiri kerajaan Maanyan Nansarunai, ratusan tahun sebelum kerajaan Banjarmasin berdiri. Dan mungkin karena sumber daya alam batu mulia ini pulalah yang mengudang Majapahit menyerang Nansarunai hingga tumbang di abad ke 14 masehi, lalu digantikan kerajaan Negara Daha/Dipa.
Intan permata dan gemstone lainnya yang terkenal di bursa dagang Martapura Kalsel sebenarnya sudah sangat dikenal di nusantara, suplier terbesar di Kaltim juga dari Martapura. Sayangnya dalam kancah kericuhan batu akik nasional saat ini, batu mulia khas Kalimantan seperti tenggelam dikalahkan promosi dan berita-berita di propinsi tetangga seperti lumut aceh, solar aceh, opal fire jawa tengah, bacan maluku, kalimaya banten dan lain-lain. Tumben tidak seperti biasanya bubuhan banjar haratnya tenggelam kalah promosi dengan akik-akik daerah lain. Red borneo pun masih kalah terkenal. Kaget juga lihat batu merah muda yang secara ilmiahnya mirip batu marmer dijadikan salah satu ikon kalimantan.
Saat saya di Berau beberapa bulan lalu sempat ditujukukkan teman akan akik ikon Berau, namanya Bulu Monyet, memang tampak unik dan langka, sebenarnya fosil dari bulu yang terawetkan, tentu saja tidak ada yang menandingi karena kelangkaannya. Harganya pun melonjak puluhan juta. Meninggalkan ruby cantik koleksi haji pasar pagi kelas 10 juta an.
Batu akik seyogyanya adalah perhiasan yang dikaruniakan Tuhan untuk memperindah diri sekaligus bersyukur atas pemberiannya. Jangan sampai akik yang hanya segumpal batu kecil membuat kita lupa akan kekuasaan-Nya. Mengira karena akik kita sukses, percaya diri, pelaris, pengasih, kuat bahkan kebal berpotensi membuat terjebak pada kesyirikan, ujar haji. Memang sebagian batu mulia dimasuki jin tanpa kita minta, kata rekan yang bisa melihat yang aneh-aneh. Jadi cukuplah menggunakan cincin batu mulia sekedar perhiasan apa adanya, tanpa membuat kita menjadi takabur, sombong alias harat. Akik yang dulu hanya menjadi perhatian masyarakat ekonomi kelas menengah ke atas kini sudah mewabah ke semua lapisan masyarakat, oleh karena itu bagi yang pas-pasan jangan lupa atur keuangan untuk keluarga sebelum tergoda mengkoleksi varian batu akik. Apalagi kalau sudah melihat kalimaya banten original dengan kesan galaksi mini (bukan gadget), di pinggir jalan pasar pagi, harga 3 juta rupiah bisa bikin lupa diri. Mudah-mudahan kita bisa menikmati dan melewati musim batu akik dengan bijaksana. Termasuk tim sukses kampanye yang akan melaksanakan pilkada kompak di tahun ini, jangan lakukan money politik, tapi bisa dipertimbangkan menerapkan akik politik.

Nugra,ST
Penjelajah Borneo
@nugrazee / 25D44063

Senin, 02 Maret 2015

100 Hari di Perbatasan Kaltim - Kalteng



100 Hari di Perbatasan Kaltim - Kalteng
dipublikasikan Kaltimpost 3 Maret 2015 hal. 2

Sungguh indah nian pemandangan di pedalaman bumi khatulistiwa. Hamparan pepohonan hijau dengan udara sejuk tak kalah indah dengan lukisan hijau persawahan karunia Tuhan. Tapi siapa sangka di bawah lebatnya hutan perawan Kalimantan, tersembunyi milyaran juta metric ton batubara serta ribuan ton emas.

Butuh waktu ratusan tahun untuk mengekstraksi kandungan sumber daya alam di perbatasan Kalimantan. Dan hari itu saya sedang mengurus set up project dari IUP konsesi batubara di Kutai Barat, tepat di perbatasan dengan Kalimantan Tengah dan Mahakam Ulu. Hanya dalam 200 hektar terdapat lebih 50 juta metric ton batubara dengan kualitas medium hingga cooking coal (kalori tinggi). Sementara di sekitarnya puluhan ribu konsesi BHP dengan kuantitas yang jauh lebih besar. Itulah sebabnya BHP berniat membangun jaringan kereta api untuk transportasi batubara, dimulai dari Kalteng hingga Kutai Barat.

Kualitas udara di pedalaman sangat bersih, jauh dari debu dan asap industri yang menggerogoti paru-paru. Hanya asap rokok satu-satunya pengotor yang mencemari udara tanpa mengenal tempat dan waktu. Sudah jauh-jauh masuk ke pedalaman mencari udara segar akhirnya batuk-batuk juga terkena semburan asap teman di sebelah. Apalagi saat bernegosiasi dengan warga, kepala kampung dan kepala adat soal kompensasi lahan, asap mengepul kanan kiri bersama kopi hitam panas. Serasa lepas beban hidup, sementara.

Sungai Mahakam menjadi salah satu urat nadi perekonomian masyarakat Kutai Barat dan Mahulu. Kapal-kapal barang hilir mudik tiap hari dari pelabuhan Samarinda hingga ke Datah Bilang, tempatnya gadis Dayak yang cantik-cantik mudah ditemui. Hulu sedikit dari Datah Bilang, perusahaan tambang terjauh sudah beroperasi lama, milik Bayan Grup, Mamahak Coal Mining. Sayangnya Sungai Mahakam surut di musim kemarau sehingga hanya ketinting yang bisa lewat, nasib kapal barang tersangkut di Melak. Sempat saya lintasi kapal dengan alat berat milik TNI yang hendak mengerjakan proyek di perbatasan Malaysia, tertahan di Tering tak mampu menembus dangkalnya Sungai Mahakam.

Jalur darat rasanya semi off road dari Barongtongkok, ibukota Kutai Barat menuju Datah Bilang, wilayah Hilir dari Mahulu. Jalan baru tuntas sampai disini, itupun melewati beberapa jalan logging dan sawit. Nasib daerah pedalaman masih terbilang tragis karena program pembangunan masih terfokus di wilayah pesisir. Jalan aspal habis setelah melewati Tering, kampung dengan banyaknya batuan beku struktur kolumnar persis situs Gunung Padang Jawa Barat. Saya sedikit mengira dari batuan Tering inilah Mulawarman memahat cerita kebesarannya di abad 5 Masehi. Karena di sepanjang Sungai Mahakam, hanya di Tering terdapat batuan tersebut, apakah dibawa menggunakan kapal ke Sebulu Kukar, entahlah.

Lepas dari Tering, jalan pengerasan melintasi kampung yang cukup terkenal sebagai kampung warga pendulang emas, Kelian Dalam. Berbeda dengan kampung-kampung di sekitarnya yang mayoritas Dayak Tunjung dan Benuaq dengan agama Kristen Katolik, di Kelian Dalam ini separuh Dayak Bakumpai dan separuh Bugis yang secara umum beragama Islam. Emaslah yang menjadi daya tarik kedatangan warga Bakumpai dari Kalteng jauh-jauh melintasi sungai gunung hingga di daerah Kelian Dalam dimana 20 tahun lalu butiran emas begitu mudah diperoleh di permukaan tanah hanya dengan sedikit mencangkul. Disusul warga Bugis yang masuk pada masa-masa emas kehutanan. Sampai hari ini, paska selesainya penambangan PT. KEM, Kelian Equatorial Mining, tambang-tambang kecil warga Bakumpai, Banjar, Bugis, Dayak dengan jumlah ratusan orang masih berjalan di celah-celah hutan lindung.

Jalur sutera ini hampir setiap harinya menjadi perlintasan pengerjaan proyek di pedalaman serta warga yang menuju Datah Bilang melalui jalur darat. Tiba musim hujan hanya mobil double garden yang sanggup melintas karena terdapat bukit dengan grade yang cukup terjal. Tak heran kepala kampung yang tinggal di tengah kebun sawit luas punya mobil double gardan gagah saban hari melintas. Kutai Barat dan Mahakam Ulu kaya sumber daya alam, sayangnya kurang sentuhan yang lebih dalam menempatkan posisi pedalaman sebagai core dalam bisnis maupun development peningkatan kualitas sumber daya manusia dan kesejahteraannya. Posisi pedalaman Kaltim seperti ujung tanduk karena ia tidak menjadi wilayah perlintasan, berbeda dengan pendalaman Kalimantan Barat yang menjadi perlintasan dengan Malaysia sehingga pada beberapa titik perlintasan kondisi kesejahteraan warganya masih lebih baik.

Kelian Equatorial Mining setidaknya mempunyai sumbangsih pada peningkatan SDM Kutai Barat, dimana alumni-alumni karyawannya saat ini sudah berhasil di pemerintahan dan bisnis sektor lainnya sehingga Kutai Barat sebagai daerah otonomi baru jauh lebih sukses dibandingkan Nunukan. Bule-bule Australia sedikit banyak memberikan kontribusi dalam memperbaiki etos kerja warga pedalaman menjadi lebih disiplin dan keahlian kerja yang baik. Tak sedikit pula gadis-gadis Dayak Tunjung Benuaq berkulit putih nan cantik, diperistri dan bermigrasi ke Jakrta, Australia, hingga Eropa. Sebut saja KEM effect. Walaupun KEM sudah menyerahkan mine closure atau penutupan tambang pada pihak pemerintah daerah namun perhatian (protes) KEM terhadap penambang Taliban emas di sungai-sungai hilir KEM masih cukup intens. Konon kabarnya dibalik hutan lindung masih tersimpan cadangan emas yang cukup besar.

Gunung-gunung perbatasan Kalimantan Timur dan Kalteng serta Serawak tak hanya menyimpan harta kekayaan alam yang sangat melimpah, namun gunung-gunung ini juga ratusan tahun lalu menjadi saksi perburuan kepala (highlander versi Dayak) antar sesama suku Dayak di masa silam. Dayak Iban dari Serawak, pernah menyerbu kampung-kampung Dayak di Mahakam Ulu. Dayak Bahau (Mahulu), Ngaju (Kalteng) dan Kenyah-Kayan (Malinau) pun biasa berantem di Mahakam Ulu, sampai kemudian kedatangan ekspedisi Belanda yang melintas dari arah Kalimantan Barat, mendamaikan semua suku-suku Dayak di Kalimantan sekaligus menyebarkan misi agama.

Belum puas rasanya 100 hari di pedalaman Kalimantan, namun karena harga batubara rontok, maka proyek-proyek batubara pun bergelimpangan satu per satu di pedalaman Kalimantan karena cost (biaya) yang cukup tinggi. Biaya transportasi maupun pengapalan di hulu Mahakam selisih $2-$4 jika dibandingkan daerah Kukar ke hilir. Tak heran pengurangan karyawan pertambangan merebak seperti angin, perekonomian sedikit sunyi. Rumah kontrakan menganggur, warung makan agak sedikit sepi pengunjung, termasuk penginapan yang cukup banyak di Barongtongkok harus sedikit bersabar.

Jikalau saja jalan aspal melenggang dari Kutai Barat menembus Mahulu hingga Serawak, barangkali perekonomian lebih bergairah dengan adanya interaksi perdagangan antar kedua negara, harga-harga Indonesia yang lebih murah akan menjadi incaran warga tetangga. Mosok pusat perdagangan ekspor impor hanya ada di Batam, Jakarta dan Surabaya. Boleh dong pedalaman Kaltim melakukan ekspor impor, soal legal dan halalnya tinggal terbitkan aturan dan pengawasan. Ah, selesai satu masalah kesejahteraan. Bagi pembaca yang penasaran ayo berwisata ke pedalaman. Salam damai.


Salam,
Nugra, ST
Penjelajah Borneo

Jumat, 06 Februari 2015

Rekontruksi Paradigma Pembangunan Kaltara

Rekontruksi Paradigma Pembangunan Kaltara
Bulungan Post, 5 Februari 2015
oleh Nugra,ST


Rekontruksi Paradigma Pembangunan Kaltara 

Kalimantan Utara dengan 700.000 ribu penduduknya sedang bergerak take off menuju kemajuan di semua lini kehidupannya. Sayangnya daerah Kalimantan Utara  yang berbatasan dengan Malaysia, masih seperti anak tiri dalam prioritas pembangunan baik nasional maupun pemda.
Mayoritas proyek pembangunan yang dirancang pemerintah berada di daerah pesisir. Daerah yang menjadi pusat pertumbuhan dan ekonomi semakin di tingkatkan untuk menjadi metropolis  seperti Tarakan, Nunukan, Tanjungselor, sementara daerah pedalaman masih dalam stagnasi menanti keajaiban turun dari langit. Ribuan kilometer jalan tol dan jalur kereta api yang membentang dari Jawa Barat hingga Jawa Timur, terus ditingkatkan terbang jauh di atas daerah pedalaman yang seolah tersistemasi untuk tetap dijadikan bangsa tertinggal dan penonton di tengah kencangnya progresifitas pembangunan Jakarta serta kota besar lainnya.
Pemerataan pembangunan sedikit banyak terasa hanya simbolis untuk menghias jargon cinta NKRI yang diucapkan ringan masyarakat perkotaan namun terasa kurang bermakna bagi masyarakat pedalaman yang kesulitan akses jalan, pendidikan dan kesehatan. Revolusi mental dan rekontruksi paradigma pembangunan daerah pedalaman / perbatasan perlu dilakukan oleh pemerintah pusat, propinsi maupun kabupaten sehingga pembangunan dapat terlaksana dengan tepat dan benar.
Identifikasi daerah perbatasan/pedalaman sebagai beranda rumah atau lebih tepatnya beranda dengan pagar penjara yang mengunci pertumbuhan ekonomi marsyarakat pedalaman wajib segera dirubah menjadi beranda terbuka, yang tidak memandang negara tetangga atau Malaysia sebagai negara musuh/haram yang selama ini menyebabkan pembatasan pola interaksi, hubungan dagang dan ekonomi kampung-kampung atau kabupaten di perbatasan.
Kurang mampunya pemerintah dalam mempersiapkan sistem pengawasan daerah perbatasan beserta sarana pendukungnya kemudian menghasilkan konsepsi pembangunan daerah perbatasan sebagai halaman belakang rumah yang dibatasi tembok tinggi yang terlarang untuk dilintasi. Akan tetapi pemerintah mempermanis kondisi halaman belakang dengan istilah beranda Negara, istilah yang tetap membuat kampung-kampung di perbatasan kesulitan akses ekonomi ke rumahnya sendiri, NKRI.
Bagaimanakah rekontruksi paradigma model pembangunan yang tepat untuk daerah pedalaman sehingga dalam dekade ke depan ekonominya dapat berkembang pesat? Pemerintah daerah harus menggunakan model Negara Austria-Swiss (AS) sebagai contoh pola pembangunan.
Daerah Kabupaten Malinau, Bulungan-Nunukan bagian Barat, Kutai Barat, Mahakam Ulu, Murung Raya (Kalteng) serta Puttusibau (Kalbar) memiliki kondisi geografis yang sama dengan negara-negara seperti Austria-Swiss, dimana daerah tersebut berada di tengah benua/daratan yang tidak bersentuhan langsung dengan laut dan dikelilingan oleh negara lainnya.
Negara Austria dengan luas 83.858 km2 (hampir seluas Bulungan 85.618 km2) berbatasan dengan Swiss di Barat, Jerman di Utara, Hungaria di Timur dan Italia di Selatan. Terjepit oleh negara lain namun negara ini justru menjadi negara terkaya ke 12 dunia dengan pendapatan per kapita 420 juta rupiah per tahun (Kaltim 100 juta rupiah pertahun, dua kalinya Indonesia), atau, penghasilan per bulan setiap warga Austria sebesar 35 juta rupiah. Austria membuat jaringan jalan seperti jaringan laba-laba ke segala penjuru ke segala negara tetangga, hanya dengan akses tersebut Austria bisa mempertahankan dan meningkatkan perkonomiannya. Olehnya Malinau, Nunukan, Bulungan hendaklah membuat masterplan pembangunan dengan membuka banyak akses jalan termasuk ke Malaysia tanpa sungkan dan khawatir. Dengan memposisikan kota/kabupaten sebagai terminal perlintasan perdagangan dari daerah utara ke selatan/sebaliknya dan timur ke barat/sebaliknya maka daerah perbatasan/pedalaman dapat berkembang pesat layaknya jalur sutra pada masa lampau.
Dalam hal sumber energi, Austria, 62% menggunakan sumber energi terbarukan berupa tenaga air, angin, surya dan biomass dan sumber dominannya menggunakan hydropower. Pemda dan DPRD kabupaten perbatasan perlu melakukan kunjungan kerja pada negara Austria maupun Swiss untuk kajian model masterplan.
Sementara Swiss dengan luas setara Malinau yakni 41.290 km2 dikelilingi negara Perancis, Jerman, Italia dan Austria. Swiss menjadi negara terkaya ke 9 dunia dengan pendapatan perkapita 450 juta per tahun. Negara ini mengandalkan perekonomiannya melalui ekspor bahan kimia 34%, mesin/elektrik 20.9%, jam 17% serta mengandalkan aspek perbankan dan turis. Tenaga air menjadi sumber energi terbesar yakni 56%, perlu menjadi perhatian pemda setempat untuk lebih serius mempersiapkan sumber energi berupa hydropower sebagaimana Swiss sehingga krisis listrik tak berkesudahan bisa tertangani tuntas beberapa tahun ke depan.
Sebagai bonus, konsepsi yang perlu dibangun oleh pihak eksekutif maupun legislative kabupaten perbatasan mesti membangun kemandirian untuk memajukan kawasannya tanpa banyak bergantung dan memelas pada propinsi maupun pemerintah pusat. Modal mental mandiri akan mengasah inovasi dan kreasi dalam mempersiapkan masterplan dan RTRW yang mendukung percepatan pembangunan. Lihatlah peta infrastruktur jalan kota Moskow yang posisi kotanya mirip dengan Malinau dan Tanjungselor yang berada jauh dari bibir pantai. Moskow membangun lebih 12 akses jalan ke segala penjuru arah mata angin dengan kualitas jalan yang baik, tentu saja berimplikasi dalam peningkatan dan pertumbuhan ekonominya yang PDRB dan pendapatan perkapitanya hanya sedikit di atas Kaltim.
Jika Malinau dan Bulungan membuka akses jalan yang bagus ke Malaysia, tentu saja Malaysia akan membantu menyambungkan infrastruktur jalan dari perbatasannya ke pantainya Laut Cina Selatan. Maka hal ini akan menggeser sebagian pusat perdagangan Indonesia yang semula berlabuh ke Surabaya, Jakarta, Makassar atau Balikpapan dengan korelasi perdagangan dari daerah utara Kalimantan seperti Cina, Jepang, Korea Selatan, kemudian berubah membetuk sentral baru di pantai Sarawak dimana Malinau, pedalaman Bulungan, Nunukan, Kubar, Murung Raya dapat menjadi sentral jalur perdagangan darat yang ramai dan berkembang. Sehingga meningkatkan pendapatan pada sektor jasa dan pajak. Tentu saja pemerintah hanya perlu memperkuat sistem pengawasan daerah perbatasan, hal yang membuat daerah perbatasan hingga saat ini hidup bagai di penjara. Hanya perlu menambah tim pengawas terpadu lintas sektor, dan meningkatkan akses transportasi ke Negara tetangga, maka Bulungan, Malinau, Nunukan, Tanatidung dan Tarakan pun dapat menjadi lebih maju dengan peningkatan pendapatan perkapita/PDRB serta APBN-nya. Semoga bermanfaat untuk rekonsepsi pembangunan wilayah Kalimantan Utara dan semoga terpilih Gubernur yang visioner.


Koordinator Forum Peduli Borneo
Sedang berkelana di Sekayan